Kamis, 29 Juli 2010

Cara meminimalisir global warming

Global warming atau dalam bahasa Indonesianya adalah pemanasan global. Isu pemanasan global begitu hangat mencuat, seakan-akan menggeser isu-isu lainnya semisal HAM, teroris dan isu-isu kemanusian yang lainnya. Memang tidak dapat dipungkiri isu ini melaju pesat hingga ke desa-desa, khususnya negara Indonesia. Bahkan anak sekolah dasar juga fasih mengucapkan istilah global warming dan pertemuan-pertemuan dalam lingkup Rt/Rw jua latah dalam arus yang sama (global warming).
Apa itu global warming? Setidaknya kata itu dapat diartikan sebagai kejadian naiknya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi (www.wikipedia.org). Akibat dari pemanasan global adalah berdampak pada mencairnya es yang berada di kutub, dan ketika ini terjadi maka air laut akan melimpah ruah, yang pada akhirnya mampu meneggelamkan bumi ini. Begitu dahsyatnya dampak yang akan terjadi.
Pertemuan di Bali yang membahas tentang konferensi perubahan iklim sudah rampung dilangsungkan, tapi apa yang dihasilkan (diputuskan)? Kekuatan politik dan ekonomi masih mewarnai konferensi tersebut. Negara-negara produsen rumah kaca (negara-negara maju, (G8)) bersikukuh dengan asumsi bahwa pemanasan global tidak seutuhnya dihasilkan dari efek rumah kaca. Keselamatan manusia semakin terancam. Belum selesainya isu-isu teroris yang masih membekas, kini giliran saudara muda isu (global warming) muncul menakutkan kehidupan manusia di dunia.
Gejala apa gerangan dunia ini? Benarkah global warming adalah hal yang pasti mengancam kehidupan manusia ataukah sekedar ”lipat isu” belaka. Entahlah. Akan tetapi isu ini sudah akut dibahas oleh berbagai kalangan. Tentu, dapat menjadi bahan diskusi panjang di warung kopi dan jalan-jalan.
Penulis sendiri dipaksa untuk percaya dengan adanya isu global warming ini, hegemoni isu ini memang kuat, karena dampak yang mengancam habitat manusia memang mengerikan, ini yang menjadi titik krusial, kenapa dan mengapa global warming di-isukan. Sejurus dengan itu, perlu adanya injeksi kesadaran dari semua unsur yang ada. Kesadaran menjadi kunci pokok untuk melakukan berbagai hal yang lebih baik tentunya. Dewasa ini, seakan-akan kita tidak memiliki kesadaran akan akibat dan dampak membalak hutan, membuang sampah sembarangan, eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran, penambangan liar, serta banyak lagi perilaku jahanam yang setiap saat dapat dilakukan oleh manusia.
Kesadaran diri akan kerugian kolektif haruslah dipahami dari pada keuntungan materi secara personal akibat hal-hal yang menyimpang. Tentunya, kembali kepada individu masing-masing, karena kesadaran memang berawal dari dalam diri setiap manusia. Isu global warming tetap berlanjut dan mencengkram degup jantung manusia, manusia tak pernah aman hidup di dunia ini. Manusia semakin dikejar-kejar oleh ancaman, hidup semakin tidak berarti walau kecanggihan terus membahana. Tentunya, kecanggihan itu sendiri yang akan mengancam kehidupan massal manusia.
Hal terpenting adalah, sadar diri dan sadar posisi! Inilah salah satu prinsip dasar yang patut ditanam bagi setiap manusia. Kesadaran akan bahaya membalak hutan, kesadaran akan membuang sampah sembarangan, kesadaran akan penambangan liar yang akan berakibat buruk. Maka satu kata yaitu hentikan dan jangan teruskan!
Apakah kita akan menikmati keindahan dunia kisaran waktu 100 tahun kedepan? atau 1000 tahun kedepan?, sadarkah kita saat ini, bahwa apa yang kita lakukan telah merugikan banyak pihak, sadarkah kita saat ini apa yang kita perbuat hanya menguntungkan untuk diri kita, sadarkah kita saat ini bahwa banyak ketimpangan yang terjadi, sadarkah kita, sadarkah kita, sadarkah kita......???
Apapun bentuk solusi yang ditawarkan untuk melakukan penanggulangan global warming jika tidak dilandasi dengan kesadaran pribadi dan kemudian menuju kesadaran kolektif, maka hanyalah isapan jempol belaka. Undang-undang HAM telah terbentuk namun masih banyak pelangggaran HAM. Pelanggaran-pelanggaran produk hukum masih sering kita temukan, ini tentu berawal dari ketidaksadaran akan produk peraturan yang dihasilkan. Menjadi mubah apa yang dirumuskan.
Sekali lagi perlu kita hembuskan isu kesadaran untuk melakukan pembenahan dalam berbagai dimensi yang ada. Geser isu global warming ini dengan isu kesadaran posisi dan kesadaran diri sambil terus berlalu melakukan pembenahan. Pembenahan infrastruktur, pembenahan sosial, pembenahan budaya, pembenahan ekonomi dan sebagainya. Salah satunya isu global warming ini, dan ketika kita sudah memiliki kesadaran yang total, setidaknya global warming akan mengucapkan salam perpisahan bagi umat manusia untuk waktu yang lama. Sadarlah wahai manusia bahwa kerusakan di bumi dan di laut adalah ulah manusia semata (terjemah bebas dari salah satu ayat Al-Quran).
Baca selanjutnya...

10 GEJALA PEMANSAN GLOBAL

Ada yang bilang pemanasan global itu hanya khayalan para pecinta lingkungan. Ada yang bilang itu sudah takdir. Ilmuwan juga masih pro dan kontra soal itu. Yang pasti, fenomena alam itu bisa dirasakan dalam 10 kejadian berikut ini. Dan yang pasti ini bukan imajinasi belaka, sebab kita sudah mengalaminya.


  • Kebakaran hutan besar-besaran

    Bukan hanya di Indonesia, sejumlah hutan di Amerika Serikat juga ikut terbakar ludes. Dalam beberapa dekade ini, kebakaran hutan meluluhlantakan lebih banyak area dalam tempo yang lebih lama juga. Ilmuwan mengaitkan kebakaran yang merajalela ini dengan temperatur yang kian panas dan salju yang meleleh lebih cepat. Musim semi datang lebih awal sehingga salju meleleh lebih awal juga. Area hutan lebih kering dari biasanya dan lebih mudah terbakar.

  • Situs purbakala cepat rusak

    Akibat alam yang tak bersahabat, sejumlah kuil, situs bersejarah, candi dan artefak lain lebih cepat rusak dibandingkan beberapa waktu silam. banjir, suhu yang ekstrim dan pasang laut menyebabkan itu semua. Situs bersejarah berusia 600 tahun di Thailand, Sukhotai, sudah rusak akibat banjir besar belum lama ini.

  • Ketinggian gunung berkurang

    Tanpa disadari banyak orang, pegunungan Alpen mengalami penyusutan ketinggian. Ini diakibatkan melelehnya es di puncaknya. Selama ratusan tahun, bobot lapisan es telah mendorong permukaan bumi akibat tekanannya. Saat lapisan es meleleh, bobot ini terangkat dan permukaan perlahan terangkat kembali.

  • Satelit bergerak lebih cepat

    Emisi karbon dioksida membuat planet lebih cepat panas, bahkan berimbas ke ruang angkasa. Udara di bagian terluat atmosfer sangat tipis, tapi dengan jumah karbondioksida yang bertambah, maka molekul di atmosfer bagian atas menyatu lebih lambat dan cenderung memancarkan energi, dan mendinginkan udara sekitarnya. Makin banyak karbondioksida di atas sana, maka atmosfer menciptakan lebih banyak dorongan, dan satelit bergerak lebih cepat.

  • Hanya yang Terkuat yang Bertahan

    Akibat musim yang kian tak menentu, maka hanya mahluk hidup yang kuatlah yang bisa bertahan hidup. Misalnya, tanaman berbunga lebih cepat tahun ini, maka migrasi sejumlah hewan lebih cepat terjadi. Mereka yang bergerak lambat akan kehilangan makanan, sementar mereka yang lebih tangkas, bisa bertahan hidup. Hal serupa berlaku bagi semua mahluk hidup termasuk manusia.

  • Pelelehan Besar-besaran

    Bukan hanya temperatur planet yang memicu pelelehan gununges, tapi juga semua lapisan tanah yang selama ini membeku. Pelelehan ini memicu dasar tanah mengkerut tak menentu sehingga menimbulkan lubang-lubang dan merusak struktur seperti jalur kereta api, jalan raya, dan rumah-rumah. Imbas dari ketidakstabilan ini pada dataran tinggi seperti pegunungan bahkan bisa menyebabkan keruntuhan batuan.

  • Keganjilan di Daerah Kutub

    Hilangnya 125 danau di Kutub Utara beberapa dekade silam memunculkan ide bahwa pemanasan global terjadi lebih “heboh” di daerah kutub. Riset di sekitar sumber airyang hilang tersebut memperlihatkan kemungkinan mencairnya bagian beku dasar bumi.

  • Mekarnya Tumbuhan di Kutub Utara

    Saat pelelehan Kutub Utara memicu problem pada tanaman danhewan di dataran yang lebih rendah, tercipta pula situasi yang sama dengan saatmatahari terbenam pada biota Kutub Utara. Tanaman di situ yang dulu terperangkap dalam es kini tidak lagi dan mulai tumbuh. Ilmuwan menemukan terjadinya peningkatan pembentukan fotosintesis di sejumlah tanah sekitar dibanding dengan tanah di era purba.

  • Habitat Makhluk Hidup Pindah ke Dataran Lebih Tinggi

    Sejak awal dekade 1900-an, manusia harus mendaki lebihtinggi demi menemukan tupai, berang-berang atau tikus hutan. Ilmuwan menemukan bahwa hewan-hewan ini telah pindah ke dataran lebih tinggi akibat pemanasan global. Perpindahan habitat ini mengancam habitat beruang kutub juga, sebab es tempat dimana mereka tinggal juga mencair.

  • Peningkatan Kasus Alergi

    Sering mengalami serangan bersin-bersin dan gatal di matasaat musim semi, maka salahkanlah pemanasan global. Beberapa dekade terakhir kasus alergi dan asma di kalangan orang Amerika alami peningkatan. Pola hidupdan polusi dianggap pemicunya. Studi para ilmuwan memperlihatkan bahwa tingginya level karbondioksida dan temperatur belakangan inilah pemicunya. Kondisi tersebut juga membuat tanaman mekar lebih awal dan memproduksi lebih banyak serbuk sari.

    Diterjemahkan secara bebas dari www.livescience.com

    Sumber :

    Merry Magdalena

    http://netsains.com/2008/03/10-gejala-pemanasan-global/

    Sumber Gambar :

    http://www.globalwarmingart.com/images/9/9e/Risks_and_Impacts_of_Global_Warming.png


    9 Mei 2009 Baca selanjutnya...